Foto Studi Tiru Guru MAN Bontang dan Menikmati Kearifan Lokal Samarinda

Sambut Implementasi KurMa, Guru MAN Bontang “Asah Pisau” ke SMA Samarinda

album Berita pengumuman

Bontang (Madrasah) — Dalam menyambut implementasi Kurikulum Merdeka (KurMa) di Madrasah Aliyah Negeri Bontang, Kepala Madrasah Sugiannoor, S.Pd.I, Waka. Bidang Kurikulum Khaerana, S.Ag, Waka. Bidang Kehumasan Lena Roza, M.Pd, dan operator Vivi Rostaviya, S.Kom. bergabung dengan rombongan guru guru SMA Negeri 1 Bontang melakukan kunjungan belajar atau studi tiru ke SMA Negeri 8 Samarinda dan SMA Negeri 11 Samarinda selama dua hari Selasa – Rabu (7-8/06/2022).

Khaerana, S.Ag (waka. Kurikulum), salah satu guru madrasah yang ikut andil dalam kegiatan ini menuturkan bahwa kunjungan ini bertujuan mempelajari langkah-langkah apa yang dilakukan oleh sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, bagaimana menggabungkan aspek profil pelajar pancasila, dan apa bedanya dengan kurikulum 2013. Selanjutnya, kita harus memahami  Pandunan Implementasi Kurikulum Merdeka pada Madrasah, Panduan Pengembangan Kurikulum Operasional Madrasah (KOM),  Panduan Proyek Profil Pelajar Pancasila Rahmatan Lil-Alamin sesuai KMA NO. 347 Tahun 2022. Hal ini sangat penting diketahui mengingat status madrasah kita sebagai madrasah mandiri belajar.

Kepala madrasah, Sugiannoor menambahkan bahwa Implementasi Kurikulum Merdeka di madrasah yang telah dipayungi dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) nomor 347 Tahun 2022 perlu diikuti, panduan panduan tersebut diharapkan dapat dipergunakan mulai tahun pelajaran 2022/2023 ini. Implementasi kurikulum merdeka tahun ini juga sudah merupakan kesepakatan  MKKS tingkat SMA/MA/SMK se provinsi Kalimantan Timur

Sebagaimana diketahui bahwa Kurikulum merdeka belajar muncul sebagai akibat dari krisis pembelajaran yang berlangsung lama, yang diperparah dengan pandemi Covid-19, segera mengubah wajah pendidikan di Indonesia. Perubahan  paling nyata terlihat pada proses pembelajaran yang awalnya berbasis metode tatap muka, yang kemudian berubah menjadi metode pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Program merdeka belajar dirancang sebagai bagian dari upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengatasi situasi krisis pembelajaran yang telah lama kita hadapi dan diperparah oleh pandemi. Krisis ini ditandai dengan rendahnya prestasi peserta didik, bahkan pada mata pelajaran dasar seperti membaca.

Intensitas belajar mengajar juga menurun secara signifikan, baik dari segi jumlah hari sekolah per minggu maupun rata-rata jumlah jam per hari. Selama PJJ,  peserta didik biasanya belajar 2 sampai 4 hari seminggu, terutama peserta didik sekolah menengah pertama, peserta didik sekolah menengah atas, dan peserta didik sekolah kejuruan (Puslitjak, 2020).

Kurikulum merdeka belajar adalah kurikulum pengembangan dan implementasi program darurat yang dirancang untuk merespons dampak pandemi Covid-19. Merdeka Belajar merupakan suatu pendekatan yang dilakukan agar peserta didik dapat memilih mata pelajaran yang diminatinya.

Program merdeka belajar lebih menitikberatkan pada materi esensial dan mengembangkan keterampilan peserta didik secara bertahap. Proses pembelajaran harus lebih teliti, bermakna, tidak tergesa-gesa, dan menyenangkan.

Lena Roza sebagai waka Humas juga mengungkapkan pemahamannya bahwa pada Kurikulum  2013 jenjang SMA/MA,  peserta didik baru harus memilih jurusan sedangkan pada program prototipe, pemilihan jurusan dimulai saat peserta didik masuk kelas 11 sebelum melakukan musyawarah antara kepala sekolah, wali kelas, BK, dan orang tua peserta didik. Di bidang struktur, Kurikulum Merdeka memiliki dua struktur yang khas, yaitu: kegiatan intrakurikuler dan kegiatan proyek, baik secara individu maupun kelompok, yang pelaksanaannya sepenuhnya diserahkan kepada sekolah/madrasah dan pendidik untuk setiap mata pelajaran. Kurikulum merdeka belajar juga bervariasi dalam panjang atau jumlah jam belajar. Jika kurikulum 2013 menghitung jam kelas berdasarkan beberapa minggu, kurikulum prototipe menghitung jam berdasarkan tahun. Hal inilah yang menginisiasi pihak madrasah untuk belajar, melakukan kunjungan belajar ke sekolah-sekolah yang sudah duluan melaksanakannya.

Lena juga mengungkapkan “Pentingnya pembinaan dan arahan dari bagian pendidikan madrasah Kementerian Agama agar kita tidak salah jalan atau jalan sendiri-sendiri, kecemplung sendiri “ selorohnya. Semua guru, tenaga pendidik dan kependidikan di madrasah harus mendapatkan diseminasi, ibaratnya “Pisau para pendidik harus di asah” harap waka humas ini. (lr)